Mobil China dari DFSK Mengahapus semua Stigma Negatif yang ada di Indonesia

Keberadaan Mobil China di Indonesia memang belum terlalu lama, namun sejarah mengecewakan yang ditorehkan selama ini tidak mudah dihapuskan. Di benak konsumen otomotif, ada stigma negatif yang tentang Mobil China yang sulit dihapus. Dampaknya, pemain-pemain baru yang membawa mobil yang berasal dari China ke Indonesia, kesulitan untuk bersaing dengan mobil-mobil Jepang dan lainnya.

Meski ada kondisi yang kurang baik tersebut, namun belakangan ini pabrikan asal China kembali mencoba peruntungan di industri otomotif Indonesia. Salah satunya adalah PT Sokonindo Automobile yang lebih dikenal dengan merek DFSK. Memahami situasi industri otomotif yang kurang menguntungkan mobil dari negeri tirai bambu ini, DFSK Motors Indonesia tidak tinggal diam. Dengan optimisme tinggi, DFSK berupaya untuk menghapus stigma negatif pada mobil China demi kemajuan industri otomotif Indonesia sendiri.

Citra Negatif Mobil China

Tidak sedikit memang konsumen di negara kita yang meragukan mobil-mobil yang berasal dari China yang dijual di Indonesia. Juga bukan tanpa alasan jika mobil dari China belum mendapatkan kepercayaan dari konsumen otomotif Indonesia. Dari hasil penelusuran, bisa ditemukan jika beberapa sebab berikut menjadi alasan mengapa mobil produksi China hancur di pasar otomotif dalam negeri kita.

Kualitas Kurang Bagus
Tidak ubahnya kebanyakan barang-barang produksi China yang dianggap tidak berkualitas, demikian pula dengan mobil China. Sejak awal mobil dari China masuk ke Indonesia, bukan kualitas baik yang ditunjukkan, tapi justru masalah demi masalah yang merugikan konsumen. Harga murah yang disematkan layaknya sebuah penanda bahwa mobil yang berasal China menggunakan bahan tak berkualitas.

Anda bisa melihat sejarah mobil China pertama yang masuk ke Indonesia di awal tahun 90-an. Saat itu, Beijing Jeep masuk ke Indonesia sebagai mobil jeep militer hibah dari pemerintah China. Tapi saking buruknya kualitas mobil ini, banyak mobil yang rusak tidak dapat diperbaiki dan terbengkalai. Meski bukan diperuntukkan untuk masyarakat luas, catatan ini tetap diperhatikan masyarakat.

Mobil yang diproduksi China ini untuk pasar umum terdeteksi sekitaran tahun 2000-an. Merek Changan hadir dengan mobil pikap untuk menyaingi Carry. Merek ini pun hanya bertahan hingga tahun 2005 saja, setelah itu menghilang. Selanjutnya ada pula ZNA yang membawa mobil sekelas Nissan Serena. Sayangnya, masyarakat yang masih asing dengan merek China plus lini marketing yang asal-asalan menjual membuat merek ini tidak terdeteksi radar konsumen otomotif. Hingga kini, sisa stok unik ZNA yang tidak terjual teronggok begitu saja di Jakarta.

Fitur Terbatas dan Asal-asalan
Kualitas mobil dan bahan yang kurang berkualitas bukan satu-satunya, fitur seadanya juga membuat mobil dari China ini kurang disukai. Jarang ada mobil China yang punya fitur hiburan, kenyamanan, dan keamanan yang memadai.

Dengan harga yang terlampau murah, kadang memang sulit untuk memenuhi standar fitur kenyamanan dan keamanan, yang beredar saat itu mengingat semua komponen dibawa dari China dan baru dirakit di Indonesia. Menambah komponen atau fitur keamanan sama saja dengan menambah biaya produksi, apalagi komponen-komponen tersebut harus dikenai pajak. Tentu sulit untuk mempertahankan biaya murah kalau sudah demikian.

Di tahun 2006, Chery membawa 2 jenis mobil populer mereka yaitu Chery QQ dan Chery Tiggo. Sempat cukup laris di awal-awal penjualan, tahun 2009 Chery mulai meredup dan tidak jelas masa depannya. Alasannya, fitur terbilang biasa-biasa saja. Penjualan mobil terus menurun karena kualitas dan lainnya tidak sesuai harapan.

Tidak Ada Layanan Purna Jual
Layanan purna jual yang buruk juga ikut andil dalam membuat mobil yang berasal dari China ini dijauhi konsumen. Bagaimana tidak, kebanyakan importir saat itu hanya fokus untuk menghadirkan mobil yang murah, namun tidak punya layanan purna jual. Bayangkan saja jika Anda punya mobil, lalu rusak. Garansi dan tempat service tidak ada, lantas harus bagaimana? Mobil asal China lain yang melebihi popularitas Chery kemudian muncul di tahun 2010. Geely Mobil Indonesia hadir dengan beberapa model mulai dari city car hingga MPV. Bahkan, publik sempat terpesona akan kehadiran Geely Panda yang imut dan menjanjikan.

Namun lagi-lagi akhirnya karena kurangnya kualitas dan layanan purna jual, Geely juga hilang dari peredaran. Memang Geely belum sepenuhnya hilang, tinggal stok lama saja yang masih dijual. Jika ada masalah, mungkin masih bisa dibantu diler jika Anda tinggal di kota besar macam Jakarta. Tapi kalau sudah di daerah, tidak ada pilihan lain selain membiarkan mobil tersebut rusak, atau mengganti part-nya dengan part mobil milik produsen lain.

Upaya DFSK Menghapus Stigma Negatif Mobil China

Belajar dari pendahulu-pendahulunya, DFSK Indonesia ingin menghapus stigma negatif pada mobil-mobil asal China tersebut. Tidak cukup strategi yang dilakukan, pertama untuk sukses di pasar otomotif, harus ada terobosan. Sejak memperkenalkan diri ke konsumen di tahun 2017, DFSK membawa strategi baru untuk melakukan penetrasi mereka. Nah, berikut ini beberapa strategi DFSK yang jadi andalan untuk mencapai target:

Garansi Super Panjang
Membuktikan kualitas bahwa DFSK patut diacungi jempol bukan masalah enteng. Butuh keseriusan dan pembuktian jangka panjang. Oleh sebab itu, DFSK yang yakin akan kualitas produknya, memberikan garansi super panjang hingga 7 tahun. Garansi dari DFSK adalah garansi terpanjang jika dibandingkan dengan pabrikan lain yang rata-rata hanya memberikan garansi 3 hingga 5 tahun saja. Garansi tersebut bisa berlanjut di tangan pemilik baru jika mobil dijual.

Garansi yang diberikan DFSK juga meliputi bagian-bagian mobil. Hampir seluruh bagian mobil dijamin oleh DFSK seperti komponen utama bodi mobil, transmisi, serta mesinnya. Bahkan panel interior, sunvisor, logo, handle pintu, dashboard, grill, aksesoris, hingga tempat duduk juga masuk dalam garansi!

Fitur Modern dan Canggih
Selain berupaya menepis kekhawatiran konsumen tentang kualitas, DFSK juga tidak mau main-main dalam menyematkan fitur pada mobil produksinya. Coba saja lihat DFSK Glory 580. Pada tipe Comfort dan Luxury yang sudah dirilis di IIMS 2018 lalu, fitur kenyamanan dan keamanan berkendara sudah lengkap layaknya mobil-mobil kelas menengah ke atas.

Fitur kenyamanan berkendara yang disematkan seperti Remote Window Lifting yang bahkan bisa berfungsi meski mesin sudah mati. Lalu sunroof yang sudah ada di setiap varian Glory 580. Serta ada pula Super Smart Technology yang dikontrol dari layar LCD di dashboard dan bisa untuk memantau keadaan mobil.

Fitur hiburan juga sudah tidak perlu ditanyakan. Lewat LCD panel yang ada di dashboard, Anda bisa memutar film, musik, bahkan mendapatkan sistem informasi navigasi untuk menemani perjalanan. Semua fitur hiburan dilayani oleh 4 speaker audio berkualitas yang dipasang di bagian depan dan belakang mobil. Fitur keamanan pun sudah dilengkapi dengan dual airbags, ABS, EBD, BA, hingga sensor parkir. Bahkan untuk varian tertingginya, tersedia pengukur tekanan ban. Selain fitur keamanan canggih, ada pula Vehicle Running Recorder (VRR) yang sudah jadi fitur standar DFSK Glory 580.

Tidak kalah menarik adalah kehadiran eksterior dan interior berkelas di Glory 580. Mulai dari adjustable headlights, electric mirror, hingga defogger kaca belakang pun tersedia. Asyiknya lagi, untuk 2 varian teratas Glory 580, tersedia pemanas di kaca spion agar Anda tetap bisa melihat jelas saat hujan. Tidak perlu lagi khawatir tertutup embun.

Sediakan Jaringan dan Pabrik di Indonesia
Memahami kelemahan sistem knock down untuk produksi mobil-mobil China yang terbukti jadi strategi gagal di Indonesia, DFSK beranggapan bahwa mereka harus memiliki peran lebih besar. Mereka tidak mau lagi menyerahkan brand, perakitan, dan distribusi ke pihak ketiga sebagaimana dilakukan produsen-produsen mobil lain sebelumnya, melainkan menanganinya sendiri. Hal ini dibuktikan dengan mendirikan pabrik dan diler-diler secara luas.

DFSK Motors Indonesia memiliki pabrik sendiri untuk merakit kendaraan mereka di Cikande. Bahkan, DFSK menargetkan untuk membuat pabrik mesin tahun ini, sehingga memudahkan mereka untuk memproduksi tipe mana pun yang potensial di pasar otomotif Indonesia.

Tidak hanya pabrik, diler-diler pun telah dibangun di kota-kota besar di Indonesia. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 15 diler resmi DFSK yang melayani penjualan maupun layanan purna jual bagi konsumen. Pada akhir tahun 2018 nanti, ditargetkan ada 50 diler DFSK di seluruh Indonesia. Tidak hanya di kota besar, tapi hingga ke kota-kota kecil dan daerah.

Pihak DFSK berharap bahwa dengan adanya diler-diler di daerah, konsumen di seluruh Indonesia bakal lebih mudah mendapatkan layanan yang dibutuhkan kapan pun mereka membutuhkannya. Dengan layanan yang merata itu nantinya, pihak DFSK yakin bahwa mereka bakal mampu mendapatkan kepercayaan dari konsumen. Mobil-mobil Jepang boleh punya sejarah panjang di negeri ini lengkap dengan layanan purna jual dan marketing masif, tapi DFSK juga punya hal tersebut sebagai modal bersaing.

Upaya DFSK sejauh ini mulai terlihat mampu menarik hati konsumen otomotif Indonesia untuk melirik produk-produk yang dibawanya. Salah satu buktinya, DFSK berhasil menyabet gelar mobil penumpang terbaik di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 lalu. Meskipun harus lewat persaingan yang ketat dengan merek-merek mobil yang sudah lama malang-melintang di industri otomotif Indonesia, DFSK Glory 580 berhasil meraih predikat The Best SUV 2018.

Dengan semua kelebihan yang dihadirkan DFSK, bukan tidak mungkin mereka bakal memiliki mobil penumpang terbaik buatan China di Indonesia. Tinggal tunggu waktu saja agar masyarakat semakin mengenal dan percaya akan produk-produk berkualitas dari DFSK. Perlahan tapi pasti, DFSK bakal meruntuhkan citra negatif pada mobil China yang sudah terlanjur melekat belakangan ini.

Sumber: dfskmotors.co.id

Write a comment